Sepeninggal paman nabi abu Tholib dan istrinya Rosul sayyidah Khadijah kini kafir Quraish yang dikepalai oleh Abu Jahal abu Lahab dan Nadhor semakin berani terhadap kaum muslimin di Mekah, mereka secara terang terangan mulai berani mencelakai bahkan melakukan rencana pembunuhan terhadap Rosululloh, apalagi kepada kaum muslimin yang berasal dari kaum yang fakir dan miskin mereka tidak segan segan memaksa dan membunuh semau mereka saja, kini keberlangsungan dakhwah islamiah di Mekah mulai terganggu bahkan hampir diberangus oleh para pemimpin Quraish yang semakin lama semakin menjadi jadi, mereka menyatakan permusuhan yang sangat besar terhadap Rosululloh Sholollohu alaihi wasalam beserta pengikutnya kaum muslimin.
Di tengah himpitan intimidasi dan kekerasan yang mengancam jiwa kaum muslimin, akhirnya Alloh memerintahkan kaum muslimin melalui Rosululloh melakukan hijrah yakni berpindah dari Mekah keluar Mekah guna menyelamatkan jiwa dan keberlangsungan ajaran agama islam yang sudah tidak mungkin lagi dilakukan di tanah Mekah pada saat itu, maka terjadi dua fase hijrah yang pertama Rosul menyarankan kurang lebih 15 sahabat yang didalamya termasuk sayyidina Ustman dan istrinya Rukoyah binti rosulillah untuk berhijrah ke Habasah yang berada di daratan Afrika tepatnya Ethiopia,
sekalipun rajanya seorang Nasrani akan tetapi beliau seorang raja yang adil lagi bijaksana juga tak pernah melakukan kedzoliman terhadap masyarakatnya.
Karena jumlahnya yang relatif sedikit hijrah pada gelombang pertama ini berhasil dengan mulus tanpa halangan dari kafir Quraish, namun setelahnya pada gelombang kedua disamping jumlahnya yang lumayan besar sekitar kurang lebih seratus orang kini kafir Quraish mulai waspada dan memperketat pengawasan terhadap Baginda Rosul beserta kaum muslimin, di pimpin keponakan nabi sahabat Ja'far bin Abu Tholib berhasil membawa rombongan muslimin hingga ke Habasah, tetapi ternyata kafir Quraish telah lebih dahulu mengirimkan utusannya kepada raja Najasy untuk melobi raja Habasah dan para pembesar disana agar menolak kedatangan kaum muslim dan mendeportasi mereka setelah datang ke Habasah.
Utusan tersebut tidak lain adalah seorang diplomat ulung Amr bin Ash dan Abdulloh bin Robiah yang tidak segan segan membawakan hadiah yang mahal guna menyogok raja Najasy dan para menterinya, benar saja setibanya di Habasah sahabat Ja'far dan rombongan di hadang oleh pasukan kerajaan kemudian dihadapkan kepada sang raja Najasy dan disana terdapat dua utusan dari kaum Quraish yang sudah menunggu untuk membawa pulang kembali mereka yang hijrah kembali ke Mekah apalagi selain untuk menyiksa dan membunuh mereka.
Namun tak disangka karena keadilan seorang Raja Najasy beliau tidak hanya mendengar penjelasan sepihak dari Amr bin Ash beliau juga meminta penjelasan dari kaum muslimin dalam hal ini diwakili oleh Ja'far bin Abu tholib maka dengan penuh kepasrahan kepada Alloh sahabat Ja'far menjelaskan kronologi kejadian bahwasanya mereka telah dizolimi di Mekah dan mungkin akan dibunuh oleh kafir Quraish jika harus dipulangkan kembali, tetapi bukan hanya itu yang membuat hati sang raja Najasy luluh, beliau sahabat Ja'far membacakan Al Qur'an Surah Maryam yang menceritakan tentang Nabi Isya dan Ibunda Maryam yang isinya membuat sang raja terharu sampai berlinang air mata, beliau mengatakan ajaran islam dan ajaran yang beliau pegang berasal dari pokok yang sama yaitu Alloh Subhanahu wata'ala, setelahnya Raja Najasy menolak semua hadiah dari dua utusan Quraish dan memilih memberikan suaka kepada kaum muslimin yang berhijrah ke Habasah, dengan demikian Alloh kembali menggagalkan rencana licik yang dilakukan para Kafir Quraish, Maha Suci Alloh dengan segala Firmannya.Wallohu a'lam

Tidak ada komentar:
Posting Komentar